" Saya sudah di depan " sebuah pesan singkat ( sms ) masuk ke hpku, akupun bergegas pergi ke depan, ternyata wesi telah menunggu di depan, tepatnya di sebuah jembatan, " sudah lama menunggu " tanyaku padanya , " gak baru saja, sekalin saya janjian ketemu teman saya di sini juga, !" kami pun mencari tempat untuk menunggu akhirnya kami memilih jembatan sebagai alas kita untuk berbincang dan menunggu kedatangan temanya, dia bercerita tentang seorang temanya yang bernama senja seorang perempuan cantik yang baru saja kelar membereskan studinya di universitas kebangsaan malaysia seorang perempuan yang sangat begitu mengenal wesi, yah aku pun berharap dapat bertemu denganya agar sedikit demi sedikit dapat mencari tau sosok wesi, di sela-sela perbincangan kami sebuah pesan singkat masuk ke hp nya wesi " wes aku dah nyampe terminal cianjur gwa pake bus, jadi gwa naik angkutan apa? " wesi pun menjawab dengan sangat singkat . " 05A saya tunggu di tempat kita ketemu 2 tahun yang lalu" wesi dan senja mereka bersahabat saat mereka sama sama duduk di kelas 2 SMA dari saat itu mereka sering sama sama pergi ke sebuah tempat yang beradadi daerah pegunungan gede hanya untuk sekedar membaca sajak untuk alam ini sambil menghabiskan malam dengan beberapa botol bir, pertemanan mereka tak terjaga oleh jarak dan waktu ketika senja memilih meneruskan kuliahnya ke Malaysia, hingga saat ini ketika senja baru saja datang dia memilih untuk bertemu wesi terlebih dahulu, akhirnya sosok perempuan yang menurutku tidak banyak beda dengan wesi dari apaun kecuali logat berbahasa yang agak kemelayu melayuan hadir di depan kami, " hey saya datang huhuhu " seperti biasa tanpa bentuk emosi dan mimik muka wesi menjawab " ja ini kenalin adi " kami berbincang di jembatan itu agak lama hingga akhirnya meminta wesi untuk mengunjungi tempat yang biasa mereka kunjungi, " kaki pegunungan gede " tapi dengan ajakan itu muka wesi langsung berubah ia tertunduk terlihat sangat lemas saya gak tau apa yang terjadi pada wesi , saya hanya terdiam, sedangkan senja ia langsung duduk di samping wesi sambil membakar kembali rokonya dan berkata sangat pelan kepada wesi " bahagilah kita wes yang masih mempunyai nafsu, bahagilah mereka wes yang menjadi panutan umat karena bisa mempermainkan nafsu , berbahagilah kita ini yang masih bisa menjelma menikmati hidup ini " dengan sangat pelan pun wesi menjawab, " ia nja saya cuman berpikir tentang beberapa tahun kedepan apakah kelestarian hidup itu masih ada ? kalau kelestarian alam ini sudah habis karena bangunan vila karena kemajuan dan nafsu apakah kelestarian hidup pun akan musnah oleh kemajuan dan nasfu?"